Judul :Teriakan Dari Ujung Batas Negara
Sumber
: METROTV
Tempat Kejadian :
Kecamatan Long Apari Kabupaten Mahakam Hulu Kalimantan Timur
Hai, di blog kali ini saya akan mereview Video mengenai Teriakan Dari Ujung Batas Negara
Pada bulan Oktober tahun 2014 lalu telah di kabarkan
terdapat 10 desa di kecamatan Long Apari Kabupaten Mahakam Hulu Kalimantan
Timur ingin menyebrang ke Negeri Jiran. Ribuan Warga mengancam akan berpindah
kewarganegaraan dan mengibarkan bendera kenegaraan Malaysia. Aksi ini terjadi
karena masyarakat di perbatasan itu merasa tidak di perharikan oleh pemerintah
Indonesia sehingga mengambil sikap menyebrang.
Dari video ini terlihat jelas Masyarakat yang tinggal di
Hulu sungai Mahakam ini hidup terisolasi lantaran sungai mengering padahal
selama ini sungai merupakan jalur transportasi utama untuk memenuhi kebutuhan
pokok mereka. Akibatnya harga-harga kebutuhan pokok melambung selangit. Bisa di
bayangkan harga bahan bahan bakar minyak mencapai Rp. 20.000,00 per liter da
beras Rp. 500.000,00 per 25kg
Warga Kecamatan Long Apari merupakan pagar betis wilayah
Indonesia dan Malaysia. Jarak Long Apari ke pusat pemerintah Kalimantan Timur
di Samarinda hanya sekirnya 400km, namun
kondisi medan yang terdiri dari bukit dan sungai membuat kawasan ini terisolasi
lantaran tidak adanya jalur darat yang menghubungkan langsung. Satu-satunya
jalur yang bisa diakses hanyalah dengan menyusuri sungai Mahakam. Karena kemaru
panjang sehingga 7 bulan debit aliran sungai semakin mengecil oleh karena itu
perahu yang selalu lalu lalang kesulitan melewatinya padahal sungai itu
merupakan urat nadi transportasi warga di Hulu Mahakam apalagi jalur darat
untuk menghubungkan kawasan itu dengan kawasan lain di Mahakam Hulu maupun kabupaten lainnya pun
tidak ada oleh karena itu jalur sungai adalah satu-satunya jalur transportasi.
Yohanes Ibo selaku Kepala Adat Tiong Dhang Kalimantan
Timur mengungkapkan bahwa sangat sulit untuk hanya mengandalkan satu jalur
sungai ketika Alam tidak bersahabat seperti kemarau. Selain itu kesulitannya
sering juga membahayakan dan mengalami kerugian pada masyarakat yang sudah
tidak terhitung dan berharap pemerintah secepatnya mengakses jalur darat.
Tidak hanya sulitnya jalur transportasi yang membuat
kawasan itu terisolasi. Warga kecamatan Long Apari yang penduduknya mencapai
4000 jiwa juga terputus komunikasi dengan dunia luar karena tidak ada jaringan
telepon yang terpasang meski telepon seluler sudah terpasang sejak 2 tahun
silam tetapi masih belum bisa di aktifkan.
Yohanes Ibo sebagai Kepala Adat Tiong Dhang menyampaikan
kembali dampak kemarau dan masalah pada
pangan itu tidaklah persoalan besar tapi karena bertepatan pada musim kering maka
di sampaikanlah kepada pemerintah agar pemerintah mengetahui permasalahannya.
Selain itu komunikasi juga tidak ada oleh sebab itu warga kecamatan Long Apari
merasa dilupakan oleh pemerintah.
Mukmin Faisyal Selaku Wakil Gubernur Kalimantan Timur
menanggapi dengan mengharapkan masyarakat tidak terprofokasi dengan orang lain
yang bisa merubah pendirian sebagai warga NKRI jika terjadi kesenjangan,
kekurangan upaya kerja keras tahap demi tahap dapat berujung dengan baik
walaupun tidak sempurna.
Masalah serba
keterbatasa inilah memicu warga Long Apari bereriak karena merasa tidak di
perhatikan oleh Pemerintah. Mayjend TNI
Benny Indra P. Sebagai pangdan
VI/Mulawarman menyampai karena masalah kurangnya kebutuhan pokok yang
berlarut-larut pada akhirnya sekelompok atau beberapa orang memunculkan emosi
itu seolah-olah pemerintah daerah kurangnya memperhatikan wilayah itu dengan
langkah-langkah yang telah dilakukan satu permasalahan dari sekian permasalahan
akan diselesaikan.
Komentar
Posting Komentar